Kamis, 11 Januari 2018

Menggali ide menulis

Menggali dan Mengembangkan Ide dalam Menulis
Teuku Dadek
Menggali dan mengembangkan Ide dalam menulis, tentunya harus dengan menulis itu sendiri. Namun untuk menjadi penulis handal, butuh budaya menulis yang harus ditanamkan dalam diri seseorang. Ada syarat yang dibutuhkan untuk menjadi seorang penulis, yaitu:
- Mulai menulis dan terus menulis
- Jangan pikirkan akhir karya sebuah tulisan
- Banyak membaca
- Kepekaan ditingkatkan
- Menulis dengan jiwa
- Menulis membuat kerangka
Sedangkan, untuk mengembangkan ide menulis membutuhkan kebiasaan membaca. Membaca  akan efektif jika dilakukan dengan menggunakan teknik membaca tepat (Teknik tersebut disingkat dengan SQ3R), yakni sebagai berikut:
- Survei: melihat apa buku itu kita butuhkan atau tidak.
- Question: Menimbulkan pertanyaan didalam kepala ketika akan membaca sebuah buku, untuk menemukan inti dari sebuah buku yang sedang kita baca.
- Read: Membaca dan menemukan
- Repeat: mengulang kembali
- Review: Melihat kembali
Hambatan membaca cepat:
- Membaca dengan Suara
- Menggerakkan Kepala
- Menunjuk dengan Jari
- Membaca dalam Hati
Yang dibutuhkan dalam membaca pada pokoknya hanya membutuhkan Mata dan Pikiran, dilengkapi dengan SQ3R tersebut.
Pada pertengahan penyampaian materi, timbul juga sebuah pertanyaan dari Perwakilan Komunitas Cang Panah, “Bukannya selama ini banyak diantara kita selalu membaca dalam hati?, kenapa itu dianggap sebagai sebuah hambatan?”, lalu pemateri mencontohkan sebuah keadaan dimana ia membaca tanpa suara dan ia memahaminya. Kemudian menyampaikan bahwa, butuh kebiasaan untuk bisa membaca tanpa melibatkan hati dan hanya melibatkan pikiran dan mata saja, sehingga dengan itu efektif menemukan ide dari tulisan tersebut.
Pemateri melanjutkan pembahasan tentang teknik khusus dalam mengembangkan ide untuk membuat sebuah tulisan yang banyak diminati, diantaranya sebuah tulisan yang dikenal dengan “Puisi Essay”. Dimana puisi tersebut tidak hanya kumpulan syair-syair, namun juga pada sususannya dlengkapi dengan catatan kaki. Banyak tulisan pun bisa mencapai 15 halaman. Sehingga terlihat seperti sebuah opini namun tetap puitis dan bisa dihadirkan diruang publik untuk dipahami.
Ide sebuah tulisan bisa didapat dari berbagai sisi, diantaranya:
- Tentang Sejarah; melalui wawancara, bacaan, spasial, hikayat dan peristiwa
- Tentang Budaya; melalui amatan dan pengkajian sesuatu yang sudah dan hampir punah
- Tentang Biografi; melalui kumpulan bahan, wawancara, bahkan melalui grup sosial media juga forum-forum diskusi.
Pada akhir penyampaian materi, ia mengajak peserta untuk menulis buku bersama pemateri dan memberikan sejumlah judul yang dianggap masih sangat perlu untuk dibahas terkait Aceh Barat, yakni:
- Sidalupa (hiburan khas Aceh)
- Budaya Tarek Pukat
- Sejarah dan Kurikulum Pesantren
- Pergerakan dan Pemikiran Islam di Aceh Barat
- Bupati Aceh Barat dari Masa ke Masa, dan
- Rusuh Meulaboh.

Senin, 08 Januari 2018

Mengembangkan kemampuan dalam menulis

Launching Forum Aceh Menulis Chapter Aceh Barat
Mengembangkan Minat & Kemampuan Menulis (Yarmen Dinamika)
Literasi sesungguhnya mencakupi tulis-baca-bicara-simak-resapi-amalkan, karena tulisan pun harus “menggerakkan”. Hal ini tentunya erat sekali dengan upaya mendongkrak citra sebuah lembaga publik.
Terkait dengan literasi, pada dasarnya sudah disampaikan dalam Al-Quran surah Al-Alaq, dimana Iqra’ merupakan perintah untuk membaca dan janji Allah untuk mengajarkan manusia melalui perantara kalam.
Bagaimana mengembangkan minat & kemampuan menulis?
Ada 3 hambatan menulis yang harus diruntuhkan;
1. Menganggap bahwa menulis itu susah, sehingga enggan untuk belajar menulis.
2. Merasa tak berbakat sebagai penulis, sehingga merasa percuma saja belajar menulis
3. Merasa menulis itu tidak ada gunanya, sehingga sia-sia saja kalaupun pintar menulis.
Terlepas dari 3 hal tersebut, ada juga mitos yang harus dihilangkan dari pemikiran setiap orang, khususnya bagi mereka yang memiliki minat terhadap menulis, yakni “ bahwa menulis itu adalah bakat.” Menurut sejumlah penelitian serta pencermatan ahli bahasa, disimpulkan bahwa, menulis itu sesungguhnya bukan bakat, melainkan usaha yang terus diasah. Ini juga merujuk kepada analisis dari keilmuan neurologi dan pendidikan yang ditemukan, bahwa lebih dari 80% kecerdasan dibangun oleh lingkungan melalui latihan, pembiasaan, dan adanya apresiasi.
Lebih lanjut, selain pentingnya penguasaan terhadap bahasa dan ejaan yang disempurnakan dalam pengembangan kemampuan menulis., adalah penting juga bagi setiap penulis untuk menguasai dan menggambarkan dalam karyanya secara pas, terhadap latar suasana, latar tempat, latar watak/karatkter tokoh, dan plot/alur cerita. Sehingga untuk mengatasi hal-hal tersebut, harus melakukan observasi,  identifikasi, serta aplikasi.
Membuat tulisan yang baik harus memperhatikan kualitas sebuah ide, penggunaan bahasa yang jernih dan mudah dimengerti, bahan yang dapat dijelaskan dan penyajian yang disampaikan dengan menarik.
Para pertarung mengatakan, hanya orang yang berlatihlah yang akan memenangkan pertarungan. Maka jika ingin menjadi penulis jangan berhenti untuk berlatih. Selaras dengan hal tersebut, saalah satu filsuf/sastrawan mengatakan: Umur kita memang tak seumur bumi, tapi bisa menyambungnya dengan tulisan dan kenangan. Menjadi penulis, jiwa dan pikiran harus terisi penuh oleh sumber bacaan dan pengalaman lapangan. Berlatih menulis adalah jalan tol menjadi penulis.
Gola gong mengatakan bahwa, “Tulisan kita haruslah ibarat jalan setapak yang bisa membawa orang ke mata air atau nyala lilin kegelapan”. Islam agama yang sempurna, tak henti-hentinya menyeru umat manusia untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya, Ali bin Abi Thalib berkata, “Semua penulis akan meninggal, hanya karnyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu diakhirat nanti.”

Menulis Karya Ilmiah (Dr. T. Erwansyah, M.Si)
Bahwa penulisan karya ilmiah pada pokoknya harus memperhatikan 3 unsur penulisan berikut, yakni;
1) Ontologi Filsafat: memenuhi unsur kebenaran dengan menggunakan data-data dengan cara-cara yang subjektif.
2) Epistimologi Filsafat: Metoda atau kaidah dalam data-data tersebut harus diuji realibilitasnya. Dan,
3) Axiologi Filsafat; bahwa penggunaan data itu harus dapat ditempatkan penggunaannya sesuai kebutuhan, untuk mendapatkan manfaatnya.
Mengapa Kita Harus Menulis? (Dr. Murni, M.,Pd)
Perbedaan antara zaman prasejarah dengan zaman modern ini adalah tulisan. Tulisan adalah rekaman peristiwa, pengalaman, pengetahuan, ilmu, serta pemikiran manusia. Tulisan dapat menembus ruang dan waktu. Artinya, tulisan dapat dibaca oleh orang yang berada diberbagai tempat pada waktu sekarang dan yang akan datang. Sebagai langkah dasar cara menulis, hindari penggunaan bahasa yang terlalu formal dan kaku. Menulislah sebagaimana layaknya kita berbicara. Gunakan bahasa yang komunikatif maka tulisan kita akan terkesan ringan, bagus, dan enak saat dibaca dan berusahalah menulis dengan lugas dan bermakna.
Cara menulis yang baik dan benar diantaranya adalah:
1. Menulislah sesuai dengan apa yang kita rasa, dengar dan lihat sat itu.Pilih kata dan kalimat sederhana.
2. Gunakan gaya bertutur, seperti kita berbicara.
3. Hindari kata-kata yang tidak perlu.
4. Referensi dalam menulis.
5. Menulislah dengan jujur.
6. Menjadi diri sendiri.
7. Teruslah berlatih.
Disiplin menulis setiap hari akan membantu kita dalam melatih diri sehingga pada akhirnya menulis menjadi hal yang mudah dan nyaman dilakukan. Perkaya pengetahuan kita dengan memperhatikan dan membaca tulisan-tulisan orang lain untuk memacu semangat kita dalam menciptakan gaya khas penulisan kita.
Adi Kasman., M.A (Akal dan Kekuatan/Ilmu Pengetahuan)
Menulis itu mudah, terutama bagi yang mau menulis. Syarat pertama untuk bisa menulis dan menjadi penulis adalah kemauan dan kemampuan memotivasi diri sendiri. Lazimnya, orang yang mempunyai kemauan dan termotivasi karena memiliki pengetahuan dan kemampuan. Jadi, pada intinya untuk menjadi penulis atau menghasilkan karya tulis orang harus memiliki kemauan, motivasi, pengetahuan, dan kemampuan.
Ada dua unsur pengetahuan dan kemampuan yang harus dimiliki, yaitu, apa yang akan diungkapkan (isi) dan bagaimana cara mengungkapkan (bentuk). Aspek isi dan bentuk adalah dua hal yang mendukung eksistensi sebuah karya tulis, keduanya saling terkait dan saling melengkapi.
Kendala menulis biasanya dikarenakan adanya kendala psikologis, kendala kemampuan, kendala ekonomis, dan personality.
Penyakit yang menghantui penulis pemula adalah memulai sebuah tulisan. Kebingungan itu biaanya meliputi pertanyaan; apa yang harus pertama dituliskan serta bagaimana pengalimatan dan pengalineaannya. Bagi penulis pemula ada baiknya mencermati tulisan pengarang yang karangannya baik untuk “belajar.” Beberapa hal yang harus dicermati dan diikuti diantaranya adalah dengan cara:
1. Pengembangan gagasan
2. Pengembangan alinea
3. Perujukan acuan
4. Pengarang yang dirujuk
5. Peramuan berbagai gagasan dari berbagai sumber
6. Sikap pengarang
7. Style dan ejaan.
Menjadi penulis pada pokoknya harus memiliki kemauan, motivasi dan kemampuan. Membangun motivasi dalam menulis, sebaiknya tidak semata-mata untuk mendapatkan keuntungan secara finansial saja.

Jumat, 05 Januari 2018

Forum Aceh menulis

Bagaimna kita bisa menulis

Pertemuan Ke-2 Forum Aceh Menulis Meulaboh
Jumat, 5  Jan 2018
Tempat di Aula Bapeda Aceh Barat
,,Menggali dan Mengembangkan Ide dalam Menulis,,
   Oleh , Teuku  Ahmad Dadek
Menggali dan mengembangkan Ide dalam menulis, tentunya harus dengan menulis itu sendiri. Namun untuk menjadi penulis handal, butuh budaya menulis yang harus ditanamkan dalam diri seseorang. Ada syarat yang dibutuhkan untuk menjadi seorang penulis, yaitu:
- Mulai menulis dan terus menulis
- Jangan pikirkan akhir karya sebuah tulisan
- Banyak membaca
- Kepekaan ditingkatkan
- Menulis dengan jiwa
- Menulis membuat kerangka
Sedangkan, untuk mengembangkan ide menulis membutuhkan kebiasaan membaca. Membaca  akan efektif jika dilakukan dengan menggunakan teknik membaca tepat (Teknik tersebut disingkat dengan SQ3R), yakni sebagai berikut:
- Survei: melihat apa buku itu kita butuhkan atau tidak.
- Question: Menimbulkan pertanyaan didalam kepala ketika akan membaca sebuah buku, untuk menemukan inti dari sebuah buku yang sedang kita baca.
- Read: Membaca dan menemukan
- Repeat: mengulang kembali
- Review: Melihat kembali
Hambatan membaca cepat:
- Membaca dengan Suara
- Menggerakkan Kepala
- Menunjuk dengan Jari
- Membaca dalam Hati
Yang dibutuhkan dalam membaca pada pokoknya hanya membutuhkan Mata dan Pikiran, dilengkapi dengan SQ3R tersebut.
Pada pertengahan penyampaian materi, timbul juga sebuah pertanyaan dari Perwakilan Komunitas Cang Panah, “Bukannya selama ini banyak diantara kita selalu membaca dalam hati?, kenapa itu dianggap sebagai sebuah hambatan?”, lalu pemateri mencontohkan sebuah keadaan dimana ia membaca tanpa suara dan ia memahaminya. Kemudian menyampaikan bahwa, butuh kebiasaan untuk bisa membaca tanpa melibatkan hati dan hanya melibatkan pikiran dan mata saja, sehingga dengan itu efektif menemukan ide dari tulisan tersebut.
Pemateri melanjutkan pembahasan tentang teknik khusus dalam mengembangkan ide untuk membuat sebuah tulisan yang banyak diminati, di antaranya sebuah tulisan yang dikenal dengan “Puisi Essay”. Dimana puisi tersebut tidak hanya kumpulan syair-syair, namun juga pada susunannya dilengkapi dengan catatan kaki. Banyak tulisan pun bisa mencapai 15 halaman. Sehingga terlihat seperti sebuah opini namun tetap puitis dan bisa dihadirkan diruang publik untuk dipahami.
Ide sebuah tulisan bisa didapat dari berbagai sisi, di antaranya:
- Tentang Sejarah; melalui wawancara, bacaan, spasial, hikayat dan peristiwa
- Tentang Budaya; melalui amatan dan pengkajian sesuatu yang sudah dan hampir punah
- Tentang Biografi; melalui kumpulan bahan, wawancara, bahkan melalui grup sosial media juga forum-forum diskusi.
Pada akhir penyampaian materi, ia mengajak peserta untuk menulis buku bersama pemateri dan memberikan sejumlah judul yang dianggap masih sangat perlu untuk dibahas terkait Aceh Barat, yakni:
- Sidalupa (hiburan khas Aceh)
- Budaya Tarek Pukat
- Sejarah dan Kurikulum Pesantren
- Pergerakan dan Pemikiran Islam di Aceh Barat
- Bupati Aceh Barat dari Masa ke Masa, dan
- Rusuh Meulaboh.
Meulaboh, t Jan 2018
Notula, Jalaluddin..