Kamis, 04 Februari 2016

Opini tentang Revolusi Mental Remaja

Fenomena Revolusi Mental Remaja Kita

OLEH ; Mukhsinuddin   M. Juned Syuib

  Fenomena Kehidupan para remaja , anak –anak  dan para pemuda  kita saat ini telah sampai kepada titik kerawanan krisis yang paling parah dan merisaukan kita semua , baik krisis moralitas,  pelecehan seksual , pemakain narkoba yang telah membawa malapeta generasi  kita kedepan , yang selama ini kita  prihatin dan risaukan . Kesemua itu adalah sebuah tanggung jawab dan tantangan bagi kita semua, baik sebagai pendidik, orang tua sekalipun masyarakat. Sebagai pendidik bagaimana membina, mendidik anak didiknya  untuk dapat menerima ilmu pengetahuan (Knowledge) yang ditransferkan kepadanya, sehingga mereka dapat mengamalkan dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya  sekaligus sebagai keteladanan yang harus mereka ikuti dan teladani. Prof .Dr. Zakiah Darajat,  menulis dalam buku beliau, anak sejak dini dibekali dan ditanamkan nilai-nilai agama (Ad-Din) dalam jiwa mereka, sehingga  dalam pertumbuhannya mereka mampu akan membawa kearah  yang positif. Ajaran Agama  yang ditanamkan sejak dini kepada anak, merupakan bagian dari unsur  kepribadiannya, dan akan betindak dan bersikap sebagai filter dalam menghadapi segala keinginan  dan dorongan yang timbul . Dengan keyakinan  agama itu mereka akan mengatur tingkah laku dan  sikapnya secara otomatis dari dalam, mereka akan takut  melakukan dosa yang meraka buat , aplikasi iman dalam jiwanya sehinnga tidak melakukan dan melanggar ketentuan Allah SWT dan norma-norma kemasyarakatan.
Bila dalam keluarga telah menemukan suasana keagamaan dan melaksanakan nilai-nilai ilahiyah , hidup penuh dalam kasih sayang orang tua dan sopan santun , maka tindakannya itu akan membawa kepada pengalaman  yang mereka lihat dari kehidupan dalam keluarga , masyarakat dan  Sekolah. Secara kacamata Agama  anak itu berkembanag menurut didikan orang tuanya , orang tua yang bijak tentu mengarahkan anaknya kearah yang lebih baik dan hasanah, dalam sebuah Hadits, Rasulullah Shallallah alaiwasallam menjelaskan : “Setiap anak yang dilahirkan  adalah suci tetapi orang tuanyalah yang  membawa anak itu  menjadi - Yahudi, Nasrani atau Majusi”.  (Alhadits).
Dari kontek Hadits diatas patut kita  cermati bahwa eksistensi orang tua dalam mendidik anaknya sangat terpatron kepada arah yang dibawa oleh orang tuanya . Filosof Islam Ibnu Al-Jauzi dalam bukunya “ Aththib Arruhani” menulis perhatiannya terhadap pembentuakn jiwa  anak, serta pendidikan budi pekerti yang tinggi wajib dimulai dalam keluarga , Kalau anak-anak dibiarkan secara bebas akan membawa kehidupan yang kurang baik , sehingga sukar untuk mengembalikan kepada kebiasaan yang bermoral dan bertanam keagamaan.
Imam Al-Ghazali memberikan komentarnya dalam Kitab :Ihya Ulumuddin “ , bahwa anak itu adalah amanah Allah kepada orang tua, mereka bagaikan permata yang mahal harganya. Kehadirannya sebagai dambaan hati, tangisan pertama telah di sambut  dengan gembira dan penuh harapan karena mereka adalah sebagai penerus keturunan . Dalam Alquran digambarkan : sebagai cobaan(Fitnah) bagi orang tuanya (QS. 64 : 15).
         Tanggung jawab untuk melaksanakan bimbingan dan didikan yang baik , merupakan amanah dari Allah  yang perlu dipertanggungjawabkan dikemudian hari sebagaimana sabda Rasulullah Shalallah alaiwi wasallam: “Orang tua mempunyai tanggung jawab terhadap keluarganya dan diminta pertanggung jawabannya.( HR. Bukhari ).  Orang tua dan pendidik menyadari bahwa dalam pembinaan pribadi anak itu diperlukan pembiasan (Habitual) dan latihan (Drill) yang sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karena kebiasaan itu akan mebentuk sikap tertentu bagi anak, akhirnya mereka akan  menjadi mantap dalam segala hal yang menyangkut dengan pribadinya, komunikasi, sikap dan perlakuan orang tua terhadap anak akan membawa  dampak yang positif  pada kehidupannya masa kini maupun  masa akan datang.
Karena itu orang tua perlu menyadari faktor terpenting  adalah terbinanya hubungan    orang tua dengan anak  secara baik ,harmonis dan serasi . Kemudian orang tua perlu juga membaca kejiwaan serta karakter anak  yang perlu dikembangakan  kepada anak sehingga mereka mampu menyesuaikan dirinya dengan berbagai tuntunan masa kini  dan mendatang
Tanamkan komunikasi antara orang tua dengan anak secara baik dan hormanis, penuh rasa tanggung jawab sehingga akan membawa dampak pada kepribadian dan pengembangan potensinya . Bila anak telah mnemukan suasana yang baik dalam keluarga , hidup dalam kasih sayang  orang tua  dan sopan santun , maka tindakanya itu akan membawa kepada pengalaman yang mereka lihat dari kehidupan keluarga , karena mereka dalam masa sosialisasi yaitu masa  proses imitasi dan tahap belajar.
Keluarga sebagaimana dituliskan oleh : Elizabet B. Hurluch dalam bukunya :” Child  Development “ keluarga adalah faktor terpenting dalam membentuk kepribadian seorang anak, mereka betahun –tahun hidup dalam lingkunngan keluarga dibandingkan hidup di lingkungan Masyarakat, sekalipun di lingkungan Sekolah. Hakikat  rumah tangga adalah tempat utama dan pertama  bagi si anak dalam membentuk kepribadian, otoritas orang tua mutlak perlu untuk mendidik bagi  anak dari hal-hal yang merusak jiwanya sekalipun jasmaninya. Seorang Dosen Pasca Sarjana IKIP Dr. Hattari menjelaskan : Seorang anak itu bisa terjerumus ke dalam  pengrusakan jiwanya dan penyalahgunaan narkoba dan lain sebagainya disebakan oleh kelemahan orang tua dalam mendidik dan membimbingnya’, kecenderungan itu datang dari interen keluarga yang terlalu memanjakan dan melindungi anak sehingga  terpengaruh dari faktor eksteren yaitu lingkungan kehidupannya. Psicososial yang ada  pada anak sebagai akibat pengaruh lingkungan , dari itu perlu tanggung jawab orang tua  yang lebih bijak dan efektif dalam mencegah anak dari kerusakan nilai-nilai moral dalam jiwanya  dan nilai-nilai kemasyarakatan.
Kenakalan remaja dan anak didik yang kita lihat sekarang ini disebakan dari “ Broken Home”  dalam keluarganya, orang tua tidak mampu membentuk dan membangun  sebuah keluarga  yang baik , Dr. Abdul Mu’in menjelaskan dalm tulisannya “ Kehancuran remaja dan anak didik akan kita jumpai pada keluarga – keluarga yang   orang tuanya   pemabuk dan  bermasalah: (Majalah D&R 1996).   Anak mampu untuk selalu berlaku jujur, percaya diri serta patuh, itu memerlukan perhatian orang tua  secara serius dan bijaksana , sehingga  mereka terbentuk sikap  kepribadiannya secara utuh dan mantap, mereka berkembang dengan sempurna  .       Dr. Hattari lebih menekankan  kepada orang tua  dalam keluarga itu dibentuk sikap disiplin, persatuan  dan kebaktian , kalau orang tua aktif  dalam melaksanakan sosialisasi  padanya sejak kecil , anak itu akan mengaggap keluarga sebagai sumber kekuatan  dimana merasa mereka dapat diterima, dihargai dan disayangi. Walaupun nanti mereka menemukan lingkungan yang lebih luas lagi , mereka tetap dalam sosialnya terbatas pada keluarga dan orang tuanya.
Inilah sebuah fenomena dan klimak yang menghantui generasi kita akan datang, dari itu otoritas orang tua dalam keluarga merupakan mutlak dan komplek untuk  mencegah dan menfilter kecenderungan anak dalam melakuakn hal-hal yang negatif dan kerusakan moral, baik pengaruh budaya, pengaruh tehnologi dan  yang lebih fatal lagi adalah pengaruh pemakain Narkoba. 
Ada sementara orang beranggapan bahwa pembinaan anak hanya pada  berkisar masalah kesehatan jasmaniah saja, sedangkan masalah mentalitas dan ruhaniah tidah begitu dipentingkan, Sangat disayangkan  bila dalam pembinaan anak terutama dalam keluarga, orang tua hanya mementingkan kesehatan jasmaniah  saja, sementara ruhaniahnya dibiarkan begitu saja, kita lupa bahwa pembinan ruhaniah anak itu merupakn titik awal menentukan kepribadian anak dikemudian hari.
Perlunya menananmkan nilai-nilai  Agama.
Nilai-nilai  religius  yang ditanamkan dalam keluarganya merupakan pembinaan dan bimbingan   anak itu tunduk dan patuh  pada ajaran agama, pengahayatan  atas nilai tersebut akan membentuk   sikap dan pribadi yang baik, perkembangan  ruhaniahnya pun terarah kepada norma-norma agama. Kalau pendidikan agama dalam suatu keluarga kurang mendapat  perhatian  yang serius dan penuh tanggung jawab anak  hanya berkembang  secara alamiah , sungguh akan mengakibatkan  keluarga  yang demikian itu hancur dan tidak harmonis.
Banyak orang tua  mengeluh dan merasa sulit dalam mendidik  anaknya dikarenakan  nilai-nilai  agama dalam keluarganya tak mampu dibina dengan baik dan tidak dapat melahirkan sikap-sikap yang bernorma agama. Orang tua tidak dapat menafikan  bahwa nilai religius dan spriritual-lah  yang sangat penting dalam kehidupan anak era saat sekarang ini. Iman adalah sebagai filter bagi anak dalam meniti kehidupan , mereka tidak melakukan hal-hal yang betentangan dari norma agama. Sikap patuh dan tunduk  terhadap ajaran agama sebagai manefestasi dari keimanan yang ditanamkan sejak dalam kandungan.
Nlai moral yang tertanam pada anak itu akan membuat mereka  sopan dan santun, bijak, ikhlas dan suci dalam jiwanya, sehingga terbentuk keluarga , masyarakat  dan bangsa yang bermoral . Suatu masyarakat  dan bangsa yang tidak ada moralitas tidak akan jaya dan maju, Seperti disinyalir oleh seorang penyair besar : Syauqi Baid dalam syairnya “ Suatu Bangsa tetap hidup selama akhlaknya tetap baik, bila akhlak mereka sudah rusak, maka sinarlah kejayaan Bangsa  tersebut”. Kita semua menginginkan  masyarakat dan bangsa ini hidup dengan nila-nilai   agama dan bermoral  sehingga akan dicurahkan bangsa dan negara  “Baldatun Thaibatun Warabbun Ghafur “. Tatanan nilai-nilai moral sejak dini pada remaja , anak didik , pemuda dan mahasiswa  merupakan hal yang sangat serius yang harus kita perhatikan , untuk masa depan anak anak Bangsa Aceh kedepan Semoga Aminn.
 
Penulis adalah : Mukhsinuddin, M. Juned Syuib , S,Ag, M,M /  Dosen  pada STAIN Tgk Dirundeng  Meulaboh. Aceh Barat (email : muhmuhsin@gmail.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar